Sejarah Rondo Royal atau Tape Goreng

Blog Media Informatif dan Edukatif

Avatar for yuroinfo
27 August 2026
Sejarah Rondo Royal atau Tape Goreng

yuroinfo[dot]com – Sejarah Rondo Royal atau Tape Goreng. Rondo royal adalah makanan tradisional dari Jawa yang terbuat dari tape singkong yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan digoreng hingga matang.

Sejarah Rondo Royal atau Tape Goreng

Makanan ini dikenal dengan cita rasanya yang unik, yaitu perpaduan rasa manis dan asam dari tape singkong yang difermentasi, serta tekstur renyah dari lapisan adonan tepung.

Nama rondo royal sendiri terdengar unik dan menarik perhatian. Dalam bahasa Jawa, kata “rondo” berarti janda, sementara “royal” sering diartikan sebagai sebutan untuk sesuatu yang istimewa atau mewah.

Meski memiliki nama yang sedikit nyentrik, rondo royal sebenarnya mengacu pada camilan sederhana namun sangat digemari.

Makanan ini dibuat dengan memanfaatkan tape singkong yang difermentasi. Tape singkong yang sudah matang dibentuk menjadi bulatan atau potongan kecil, kemudian dicelupkan ke dalam adonan tepung yang sudah dicampur dengan gula dan sedikit garam.

Setelah itu, tape singkong yang telah terbalut adonan digoreng hingga berwarna kuning keemasan dan renyah di luar, namun tetap lembut di dalam.

Rasa khas tape yang sedikit asam berpadu dengan rasa gurih dan renyah dari adonan tepung, menciptakan sensasi rasa yang unik dan memanjakan lidah.

Sejarah Rondo Royal atau Tape Goreng

Sejarah rondo royal diyakini berasal dari tradisi kuliner masyarakat Jawa dalam memanfaatkan tape singkong yang sudah matang agar tidak terbuang sia-sia.

Tape singkong adalah hasil fermentasi singkong dengan ragi, yang membuatnya memiliki rasa manis dan sedikit asam. Masyarakat Jawa sudah lama mengenal tape sebagai bahan pangan, dan kreativitas dalam mengolah tape singkong melahirkan berbagai jenis camilan, salah satunya rondo royal.

Pada awalnya, rondo royal sering dijajakan di pasar-pasar tradisional sebagai camilan sederhana yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Popularitas rondo royal semakin meningkat seiring dengan waktu, karena rasa uniknya yang memadukan asam-manis dari tape dan renyah-gurih dari lapisan tepung.

Makanan ini menjadi semakin dikenal di berbagai daerah di Jawa, bahkan beberapa daerah memiliki nama lain untuk rondo royal, seperti “monyos” di Semarang atau “bolang-baling tape” di beberapa tempat lain.

Selain sebagai camilan sehari-hari, rondo royal juga sering disajikan dalam acara-acara tertentu, seperti hajatan, pertemuan keluarga, atau saat bersantai di sore hari.

Kehadirannya tidak hanya sekedar memanjakan lidah, tetapi juga menjadi bukti kreativitas kuliner masyarakat Jawa dalam mengolah bahan-bahan sederhana menjadi makanan yang lezat dan disukai banyak orang.

Hingga saat ini, rondo royal masih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional maupun di warung-warung penjual jajanan khas Jawa.

Meskipun era modern menawarkan banyak variasi camilan baru, rondo royal tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat karena kelezatannya dan kesederhanaannya yang autentik.

Warisan kuliner ini mencerminkan kekayaan budaya dan kreativitas lokal yang layak dilestarikan serta diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Terima kasih telah mengunjungi website kami.

Catatan Admin - Yuroinfo

Disclaimer: Jika dalam artikel ini ada yang kurang jelas atau belum paham maka silakan menanyakan ke guru/pengajar atau yang lebih mengetahui karena disini kami hanya sekedar berbagi saja.

Referensi :
  • chatgpt.com
  • shutterstock.com/image-photo/tape-goreng-gula-merah-rondo-600nw-1852453810.jpg

Postingan Terkait

Scroll to Top