Biografi Imam Syafi’i Sang Ahli Hadits. Biografi adalah cerita atau narasi yang menggambarkan kehidupan dan pengalaman seorang individu.

Biasanya, biografi mencakup informasi tentang latar belakang keluarga, pendidikan, karier, pencapaian, dan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Biografi dapat ditulis oleh penulis yang mendalam menyelidiki sumber-sumber informasi dan melakukan wawancara dengan subjek biografi atau orang-orang yang mengenalnya.
Tujuan dari sebuah biografi adalah memberikan gambaran holistik tentang kehidupan seseorang, menyoroti peristiwa-peristiwa yang membentuk kepribadian dan kontribusi mereka dalam berbagai bidang. Biografi dapat mencakup tokoh-tokoh sejarah, selebritas, ilmuwan, pemimpin politik, atau orang-orang biasa yang memiliki pengaruh atau prestasi luar biasa.
Biografi Imam Syafi’i Sang Ahli Hadits
Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’i adalah seorang ulama yang lahir di Gaza, Palestina. Lahir pada tahun 150 Hijriah atau 767-820 M. Beliau masih keluarga jauh rasulullah SAW dan berasal dari keturunan bangsawan Qurays.
Dari jalur ayahnya maka garis keturunannya bertemu di Abdul Manaf yakni kakek ketiga rasulullah. Jika dari jalur ibunya maka masih merupakan cicit Ali bin Abi Thalib RA. Sewaktu masih dalam kandungan, kedua orang tua beliau meninggalkan Makkah menuju ke palestina. Setibanya di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke rahmatullah.
Dalam kondisi yang sangat prihatin dan serba kekurangan, Imam As Syafi’i diasuh dan dibesarkan oleh ibunya. Waktu usia 2 tahun, beliau bersama ibunya kembali ke mekkah. Di kota makkah inilah Imam Syafi’i mendapatkan pengasuhan dari ibu dan keluarganya secara lebih intensif.
Imam Syafi’i sudah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar ketika berusia 9 tahun. Tak hanya itu beliau bahkan 16 kali khatam Al Quran di dalam perjalanannya dari Makkah ke Madinah. Setahun kemudian, sebuah karangan imam malik yakni kitab Al Muwatha’ yang berisikan 1.720 hadits pilihan juga sudah dihafalnya di luar kepala.
Selama beberapa tahun, Imam Syafi’i menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun badui bani hundail. Selanjutnya beliau kembali ke Makkah dan belajar fiqh dari Imam Muslim bin Khalid Azzanni.
Imam Muslim bin Khalid Azzanni adalah seorang ulama besar yang juga mufti kota Mekkah pada waktu itu. Kecerdasan inilah yang membuat beliau sewaktu masih usia yang sangat muda yakni 15 tahun sudah duduk di kursi mufti kota Makkah.
Meskipun demikian Imam Syafi’i belum merasa puas menuntut ilmu sebab semakin dalam beliau menekuni suatu ilmu maka semakin banyak yang belum beliau mengerti, oleh sebab itu maka tidak mengherankan apabila guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya yang sama banyaknya dengan para muridnya.
Biografi Imam As Syafi’i , Nasuru Sunnah
Walaupun Imam Syafi’i telah menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, namun lebih dikenal sebagai ahli hadits dan hukum sebab inti pemikiran beliau yang terfokus pada 2 cabang ilmu tersebut. Karena pembelaannya yang besar terhadap sunnah Nabi SAW maka beliau digelari dengan “Nasuru Sunnah” yakni Pembela Sunnah Nabi.
Dalam pandangan Imam As Syafi’i, sunnah Nabi memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan dari beberapa kalangan menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al Quran di dalam kaitannya sebagai sumber hukum islam.
Oleh sebab itu, maka menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan oleh rasulullah SAW pada hakekatnya adalah hasil pemahaman yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al Quran.
Selain kedua sumber tersebut yakni Al Quran dan Hadits, dalam mengambil suatu ketetapan hukum maka Imam Syafi’i juga menggunakan Ijma’, Qiyas dan istidlal atau penalaran sebagai dasar hukum islam.
Berkaitan dengan bid’ah, maka Imam Syafi’i berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi 2 macam, yakni bid’ah terpuji dan sesat. Apabila bid’ah tersebut selaras dengan prinsip prinsip Al Quran dan Sunnah maka dikatakan terpuji, Apabila sebaliknya maka sesat.
Di Dalam persoalan taklid, maka beliau selalu memberikan perhatian kepada murid-muridnya supaya tidak menerima begitu saja pendapat pendapat dan hasil ijtihadnya. Beliau tidak senang apabila murid-muridnya bertaklid buta kepada pendapat dan ijtihad beliau.
Sebaliknya bahkan menyuruh agar bersikap kritis dan berhati-hati di dalam menerima suatu pendapat. Sebagaimana ungkapan beliau “Inilah ijtihadku, jila kalian menemukan ijtihad lain yang lebih baik dari ijtihadku maka ikutilah ijtihad tersebut”.
Karya karya Imam Syafi’i antara lain yaitu Al Risalah, Al Umm yang mencakup isi beberapa kitabnya. Selain itu juga buku Al Musnad berisi tentang hadits-hadits rasulullah SAW yang dihimpun dalam kitab Umm serta ikhtilaf Al hadits.
Catatan Admin :
- Admin lupa konten diatas bersumber dari mana karena menemukan di folder lama hp
- Apabila ada hal yang belum dipahami atau memerlukan penjelasan lebih lanjut silakan menghubungi ustadz, kyai, ulama, guru atau orang berilmu disekitar Anda.
- Kami mengucapkan banyak permintaan maaf apabila terdapat kesalahan dalam konten ini dan mohon diberikan koreksinya
- Wallahu-a’lam.
Terima kasih telah mengunjungi website kami.

